Arti Syahadat

( BUKAN tidak ada TUHAN selain Allah ).

Kita ini sebetulnya orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam?

Bagaimana sebenarnya mendudukkan masalah ini secara proporsional? Mana yang benar: "Kita ini sebetulnya orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam?"..

INDONESIA BANGKRUT, INI SALAH SATU PENYEBABNYA

Kalau dulu Indonesia dijajah Belanda pake pasukan, kapal perang, dan persenjataan, Dan setelah menang, Belanda baru bisa ngeruk kekayaan alam. Tapi sekarang itu nggak perlu pake pasukan. Untuk bisa mengeruk kekayaan Indonesia itu cukup pake uang kertas. Kalo kita lihat sekarang ini kan Rupiah jatuh terus, kalo nggak salah sekarang 1 dollar sudah 13.300, anjlok terus. Kenapa ?.

Kecurangan Bank Dalam Kredit KPR

Sejak awal bisnis bank adlh hasil kreasi para “money lenders”. Jd jgn kaget jika sampai saat ini, praktek lintah darat masih melekat. Bagaimana bank melakukan praktek lintah darat pd nasabahnya? Salah satunya adalah dg melakukan “kreasi” terhadap bunga kredit..

Penghargaan Islam Terhadap Buruh dan Pekerja

Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, sangat memperhatikan hak asasi manusia, sekalipun dia seorang budak. Para sahabat yang pernah membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik budak maupun orang merdeka, semua merasa puas dengan sikap baik yang beliau berikan. Inilah potret ideal yang bisa dijadikan contoh muamalah antara majikan dengan pembantunya, antara pimpinan dengan pekerjanya.

Rabu, 15 Januari 2014

Bagaimana Islam Memandang Aborsi?

Soal:


Bagaimana hukum aborsi dalam pandangan Islam?


Jawab:


Sebelum membahas hukum aborsi, ada dua fakta yang dibedakan oleh para fuqaha dalam masalah ini. Pertama: apa yang disebut imlash (aborsi, pengguguran kandungan). Kedua, isqâth (penghentian kehamilan). Imlash adalah menggugurkan janin dalam rahim wanita hamil yang dilakukan dengan sengaja untuk menyerang atau membunuhnya.


Dalam hal ini, tindakan imlash (aborsi) tersebut jelas termasuk

Senin, 30 Desember 2013

AYAH, AKU INGIN MATI... ( Sudahkah kita siap menyongsong kematian..? )

Empat hari lalu, istri saya mengingatkan kalau putri sulung kami tepat berusia 14 tahun. Alhamdulillah. Saya menyalaminya, mengusap rambut kepalanya, dan mendoakan kebaikan untuknya.

 

Mendadak saya teringat dialog kami berdua ketika dia masih kelas 4 SD. Inilah obrolan ayah-anak yang mungkin tak akan pernah saya lupakan. Meski sudah lewat 4 tahun, rasanya kejadiannya baru kemarin. Bahkan, ketika hampir setiap hari saya berhenti di perempatan lampu merah Kertajaya - Dharmawangsa, memori saya seperti otomatis memutar dialog yang menggetarkan emosi.

"Temanmu ada yang sudah haid, Mbak?"

Anak saya kaget sekali dengan lontaran pertanyaan ini. Saya memang sudah mendengar dari istri kalau teman sekelas anak saya sudah banyak yang mens. Anak masih kelas 4 SD? Sudah menstruasi? Oh, nooo...

Anak saya membenarkannya. Dia pun menyebut nama-nama teman sekelasnya yang sudah haid. "Yah, ayah.... perempuan yang belum haid itu nggak punya dosa ya?", tanyanya.

“Oh iya. Perempuan yang belum haid itu dianggap belum baligh atau dewasa. Karena itu dia belum punya dosa atas apa saja yang dilakukannya”. Saya menjawab dengan penuh kebapakan.

"Ayah, kalau gitu aku sampai tua nanti nggak mau haid. Biar aku nggak punya dosa". Anak saya menjawab spontan dengan riangnya. “Ye ye ye yeee yee..."

Waks... saya tak menduga dengan perkataan ini. Tapi saya tetap harus menjawabnya.

"Mbak, yang namanya perempuan itu meski belum haid, tapi kalau usianya sudah sekitar 13 tahun, maka secara fiqih dia sudah dianggap baligh atau dewasa. Karena itu, kalau perempuan berusia 13 tahun melakukan maksiat, maka dia sudah berdosa".

Saya yakin ini adalah jawaban terbaik yang bisa memuaskan anak saya. Dia pun terdiam. Tapi, tak lama kemudian dia berkata, "Kalau begitu ayah, AKU INGIN MATI SEBELUM UMUR 13 TAHUN. Boleh ya Yah, ya Yahhh, ya Yahhhh!".

"Ye ye ye yeee yee... Ye ye ye yeee yee..", anak saya berjingkrak kegirangan. Sementara saya di sebelahnya merasa "maakk jlleeebbbb". Ayah mana yang kuat mendengarkan permintaan anaknya seperti itu?

Saya menjelaskan lagi. "Mbak, jangan takut menjadi baligh. Kalau sudah dewasa nanti, selama kita menjalankan banyak amal baik, insya Alloh kita akan punya pahala yang banyak. Dan kita akan masuk surga".

Dialog itu pun berhenti. Lampu sudah berganti hijau, saya pun menginjak gas. Kami pun pulang ke rumah...

Hari demi hari berlalu, minggu berganti minggu, bulan dan tahun terus berganti, dialog anak-ayah itu begitu membekas dalam memori saya. Dan hari ini, ketika anak saya usianya 14 tahun, sudah di atas usia yang diharapkannya mati sebelum 13 tahun, saya memutuskan membuat catatan di internet. Siapa tahu bisa bermanfaat bagi orang lain.

TAKUT MATI, KARENA TAKUT NERAKA

Entah sudah berapa kali saya menjadikan dialog tadi sebagai bumbu ceramah. Misalnya ketika mengisi pengajian rutin lansia di balai RW sebelah rumah. Ya, namanya saja lansia, pesertanya memang sudah benar-benar orang lanjut usia, dan rata-rata sudah kakek-nenek.

Dalam satu kesempatan saya membuka ceramah dengan pertanyaan, "Bapak-ibu, nanti kalau di akhirat, apakah mau masuk surga?"

"Maaaaauuuuuuuuuu". Kompak. Semua menjawab dengan semangat.

Saya sengaja diam dulu untuk mencari perhatian seluruh audien. Dan setelah semua kembali fokus, saya bertanya lagi, "Pertanyaan kedua, bapak dan ibu, SIAPA DI ANTARA KITA DI SINI, YANG SIAP MATI BESOK PAGI".

Diam. Kali ini semua kompak diam. Saya ulangi pertanyaan yang sama hingga dua kali, dan tetap nggak ada yang menjawab.

"Bapak ibu, surga itu adanya setelah kita mati. Kita nggak mungkin masuk surga, sebelum mati dulu. Tidak bisa dari hidup di dunia langsung masuk surga tanpa didahului kematian. Jadi, saya ulangi lagi, siapa bapak dan ibu yang sudah siap mati besok pagi".

Seorang ibu yang sudah sepuh di barisan depan mendadak berteriak, "TIDAK SIAAAAAPPPP".

Audien yang semula diam mendadak ger-geran, sambil mesam-mesem memandang saya. Setelah itu saya menceritakan dialog ayah-anak di atas, sebagai perbandingan.

 

Mengapa ada anak kecil sudah siap mati? Karena dia tahu pasti, sebagai anak yang belum baligh maka dia masih bersih tidak punya dosa sama sekali. Karena itu, mati baginya adalah jaminan masuk surga. Sedangkan kebanyakan manusia, mungkin termasuk kita, sikapnya persis seperti para lansia jamaah pengajian saya tersebut. Meski usia sudah lanjut pun masih merasa belum siap mati. Takut mati. Mengapa? Karena menyadari banyaknya dosa yang pernah kita lakukan, dan mati adalah lebih dekat dengan saat dimasukkan neraka. Naudzu billah min dzalik...

SIAP MATI, KARENA YAKIN JAMINAN MASUK SURGA

Bicara tentang kesiapan menghadapi kematian, mari kita perhatikan kisah sahabat Umair bin al-Humam al-Anshory saat perang Badar di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Nabi SAW berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului kaum musyrik sampai sungai Badar. Setelah itu kaum musyrik pun datang. Kemudian Rasulullah bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi”.

Umair bertanya, “Wahai Rasulullah, benarkah yang engkau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasululullah menjawab, “Benar”. Umair berkata, “ehm, ehm”. Rasulullah bertanya kepada Umair, “Wahai Umair, apa yang mendorongmu untuk berkata ehm-ehm?” Umair berkata, “Tidak apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi penghuninya” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya, wahai Umair”.

Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini mengatakan, kemudian Umair mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya. Kemudian Umair berkata, “Jika aku hidup hingga aku makan kurma-kurma ini sesungguhnya itu adalah kehidupan yang lama sekali”. Maka Umair kemudian melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum musyrik hingga terbunuh.

Allahu akbar. Begitulah sahabat yang mulia ini. Kalau sudah yakin bakal masuk surga, bahkan menunggu sampai kurma habis dimakan pun sudah kelewat lama ya… Maunya langsung mati agar segera bisa masuk surga yang dijanjikan.

Bagaimana dengan kita semua?

Sudahkah kita siap menyongsong kematian?

Siap atau nggak siap, kematian pasti akan datang.

Karena itu, sebaiknya kita membekali diri dengan memperbanyak amal kebaikan mumpung masih hidup, agar kapan saja ajal datang, kita benar-benar telah siap dengan timbangan amal yang berat, dan Insya Alloh akan dimasukkan surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.

 

Surabaya, 29 Oktober 2013

Akhukum fillah,

M. Ihsan Abdul Djalil

 

Rabu, 09 Oktober 2013

Cara cepat Download Mp3 Al Quran per ayat

Cara cepat dan tepat menghafal ayat ayat dalam Al Quran dengan adalah dengan metode membaca, mendengar dan menghafal,
Download ayat2 Al Quran lengkap per ayat di alamat ini

http://id.quran.nu/quran/sound/QFA/002/256.mp3

yang di warnai merah menunjukkan nomor surat dan ayat, contoh diatas menunjukkan surat 2 ( Al Baqarah ayat 256 ), untuk download surah/ayat yang lain tinggal mengganti yang berwarna merah.

Semoga bermanfaat

Menyoal Perjuangan Bersenjata Untuk Menegakkan Daulah Islamiyah

ArmyBenarkah Daulah Islamiyah tidak bisa ditegakkan kecuali dengan mengangkat senjata? Benarkah kekuasaan tidak akan mungkin diserahkan kepada kelompok-kelompok Islam, kecuali kelompok Islam tersebut melakukan kudeta militer?


Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kaum Muslim mempertimbangkan beberapa analisis berikut ini.

Pertama: sejatinya unsur-unsur penting yang membentuk eksistensi sebuah negara adalah manusia, pemikiran, perasaan dan aturan. Di antara unsur-unsur tersebut, pemikiran dan aturan merupakan faktor dominan yang menentukan bentuk dan corak sebuah negara. Negara Islam, misalnya, adalah negara yang menjadikan akidah Islam sebagai pandangan hidup dan dasar negara serta menjadikan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengikat seluruh warga negara. Sebaliknya, negara kafir adalah negara yang menjadikan akidah dan hukum kufur sebagai dasar dan konstitusi negara.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengubah

Senin, 30 September 2013

Hizbut Tahrir itu ormas yang tidak memberi nilai positif bagi bangsa..?

Dialog imajiner.

A : Anda dari Hizbut Tahrir ?
B : Betul saudaraku.
A : Hizbut Tahrir itu adalah organisasi yang tidak memberi nilai positip bagi bangsa. Tidak seperti organisasi keislaman lainnya seperti ..., ..., ...., ..... Bahkan Hizbut Tahrir adalah organisasi yang merongrong negara.
B : Klaim anda itu salah saudaraku ....
A : Salah ? Coba apa kiprah positip Hizbut Tahrir pada bangsa ini ?
B : Kiprah terbaik dari setiap organisasi adalah berkiprah untuk menyelamatkan bangsa dan membawanya kepada ke kesejahteraan.
A : Betul. Itulah yang telah dilakukan oleh organisasi yang saya sebut tadi. Bekerjasama dengan negara memperbaiki negeri, bukan merongrong seperti yang dilakukan Hizbut Tahrir.
B : Kenapa anda sebut merongrong ?
A : Hizbut Tahrir telah menolak Pancasila yang merupakan dasar negara, menolak Demokrasi yang sudah merupakan sistem yang dipakai negara.
B : Begini saudaraku. Hizbut Tahrir misinya adalah menyelamatkan bangsa ini. Hal pertama yang kami caritahu adalah apa penyebab bangsa ini terperosok dalam kesulitan dan kegelapan seperti sekarang ini. Setelah kami tahu dan yakin penyebabnya, maka kami memberi solusi agar bangsa ini bisa selamat.
A : Oke. Lantas kenapa harus sampai menolak Pancasila dan Demokrasi ?
B : Karena menurut kami, permasalahan bangsa ini pangkalnya dari dua hal tadi. Pancasila dan Demokrasi.
A : Pancasila penyebab semua kemerosotan ini ? Ha..ha... anda maksa banget. Bagaimana mungkin Pancasila yang merupakan Ideologi yang penuh dengan kebijaksanaan itu menjadi akar masalah ?
B : Karena Pancasila itu ada di tulisan, ada di perkataan, tapi tidak ada di prakteknya.
A : Maksudnya ?
B : Pancasila itu hanya ilusi. Jika Pancasila itu sbuah ideologi yang seperti anda klaim tadi, maka pasti Pancasila itu punya sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem kenegaraan dsbnya. Saat ini, sistem ekonomi kita justru sistem kapitalisme, bahkan kapitalis liberal. Sistem negara, sistem Demokrasi. Sistem pendidikan, sistem Sekuler, Pluralisme ? Pancasilanya dimana ?
A : Salah bung. Ekonomi kita Kapitalis Pancasila. sistem negara Demokrasi Pancasila.
B : Begitu ? Bisa bung tunjukkan apa beda Demokrasi tulen Amerika dengan Demokrasi Pancasila Indonesia ? Kapitalisme tulen Amerika dengan kapitalisme Indonesia ?
A : .................................
B : Jadi penempatan kata Pancasila itu hanyalah klaim tak berwujud. Itulah permasalahan kita. Karena Pancasila itu tidak bisa memberikan aturan kehidupan, akhirnya kita terjajah oleh aturan/ideologi asing, seperti Demokrasi, Kapitalisme, Sekulerisme, Liberalisme dll. Jadilah kita bangsa yang tidak punya jati diri. Ini maslah besar bung. Permasalahan semakin lengkap ketika sudahlah Pancasila tidak bisa mengatur negeri, kita salah pula mengambil aturan. Kita justru mengambila aturan Demokrasi yang cacat.
A : Anda ini gampang sekali main vonis. Dimana cacatnya Demokrasi ?
B : Kita melihat sesuatu itu dari siapa sipembuatnya. Siapa pembuat sistem Demokrasi ?
A : Manusia.
B : Nah itu dia. Manusia itu adalah mahluk yang terbatas ilmu dan akalnya. Maka segala aturan yang dibuat hanya berdasar ilmu dan akal manusia belaka, pasti akan mengandung cacat, sebagai konsekwensi dari sipembuatnya adalah mahluk yang punya keterbatasan.
A : Contohnya ?
B : Manusia tidak akan tahu kondisi apa yang akan ada sepuluh tahun ke depan, misalnya. Maka ketika dia membuat aturan, aturan itu hanya aturan yang akan terus berubah menyesuaikan keadaan. Kemudian, manusia itu tidak akan pernah sependapat apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka, maka pada setiap aturan, yang dihasilkan adalah aturan yang dianggap baik oleh sebagian besar/mayoritas, bukan dianggap baik oleh keseluruhan. Dua hal ini mengandung resiko sangat besar bagi kelangsungan sebuah bangsa, karena cenderung akan memunculkan konflik-konflik dan kerusakan akibat aturan yang cacat tadi.
A: Hah ... buktinya hampir seluruh negara justru memakai Demokrasi. Jika Demokrasi itu buruk, pasti tidak akan dipakai.
B : Negara Barat itu memakai Demokrasi, karena mereka tidak menemukan lagi ada yang lebih baik darinya. Itu sudah upaya maksimal akal manusia. Jika mereka punya sesuatu yang lebih baik dari Demokrasi, pasti Demokrasi itu akan mereka campakkan. Jadi mereka memakainya bukan dengan "harga mati", tapi karena ituah yang terbaik menurut mereka.
A : Terus apa yang lebih baik dari Pancasila ? Syariat Islam ? Bukankah syariat Islam juga, kekhalifahan dulu juga akhirnya runtuh ? Jika itu baik, kenapa kekhalifahan bisa runtuh ?
B : Seperti saya sebut tadi, melihat sesuatu itu benar atau tidak, haruslah lihat siapa si pembuatnya. Kami, Hizbut Tahrir memang menyodorkan Syariat Islam sebagai ganti Demokrasi dan Pancasila. Ini bukan semata karena kami muslim. Ini semata karena kami yakin bahwa syariat Islam itu adalah aturan paling sempurna, karena pembuatnya adalah Allah, Tuhannya Manusia, Allah Pencipta Alam Semesta, Allah yang ilmunya tidak terbatas.
Perkara kekhalifahan runtuh, itu samasekali bukan karena buruknya aturan, tapi buruknya penerapan aturan. Statementnya mungkin akan lebih positip jika dibalik : " Dengan aturan yang paling baik, yang berasal dari Allah SWT saja, negara akhirnya bisa runtuh, apalagi jika aturannya buatan manusia."
Kekhalifahan itu telah berhasil mensejahterakan umat yang bukan saja muslim yang menjadi warganya sepanjang lebih dari 13 abad. Lha, Indonesia yang ber Demokrasi Pancasila ini, jangankan berabad, satu hari saja tidak pernah bisa melepaskan diri dari kemiskinan, kerusakan moral dan lainnya. Malah yang terjadi faktanya semakin lama semakin kacau tidak karuan.
A : tetap ketika Hizbut Tahrir menolak Pancasila dan Demokrasi, itu adalah rongrongan pada negara ...
B : Anda ini mau menyelamatkan bangsa atau mempertahankan Pancasila Demokrasi ? Ucapan anda barusan sama saja dengan analogi seorang guru memerintahkan seluruh muridnya untuk membersihkan ruangan kelas. Semua harus berpartisipasi dan akan dihukum siapa yang menolak karena dianggap tidak membantu. Namun guru tersebut memberi ketentuan, semua harus memakai sapu yang sudah disediakan. Sementara sapu yang tersedia itu ternyata sapu yang penuh dengan kotoran.
Sikap murid gimana ? Perintahnya kan membersihkan kelas. Bagaimana sikap guru tersebut jika salah seorang muridnya menolak memakai sapu kotor tersebut dan hendak mengambil sapu yang bersih dari rumahnya ???? Menganggapnya merongrong atau mengapresiasinya ????

 

Minggu, 11 Agustus 2013

Berdakwah Lewat Parlemen?

Soal:


Apakah hukum terlibat secara langsung di dalam parlemen negara sekular?



Jawab:


Parlemen di negeri Islam, di antaranya negara Arab, pada dasarnya merupakan hasil jiplakan parlemen di negara demokrasi, dan melakukan apa yang dilakukan oleh parlemen tersebut, seperti legislasi hukum, memberikan dan mencabut mandat kepada para penguasa, meski hanya simbolik.


Karenanya, hukumnya sama, dalam konteks aktivitas yang dilakukannya, seperti aktivitas legislatif, memberikan dan mencabut mandat kepada para penguasa, menjadi anggota, mencalonkan diri menjadi anggota dan pemilihan para calon legislatif.


Parlemen ini melakukan legislasi

Kamis, 13 Juni 2013

Catatan Seorang Anak Muda, "Mereka Panggil Gue Teroris"

Ini pertanyaan dari seorang anak muda kaya' gue yang masih ngerasa penasaran banget dan masih minim ilmu. "Gue pengen tahu kenapa sih orang islam kudu disebut teroris?". Kesannya kejam, sadis abies dan sangar gitu. belum lagi sederet kisah yang disuguhkan di tivi, yang ratingnya bisa lebih tinggi dari sinetron tontonan emak- emak. Dalam bayangan gue, teroris tuh bawa senjata laras panjang, badannya berotot, suka ngerampok dan ngebajak pesawat, persis kaya' di film- film barat. Tapi akhirnya gue shock dan nambah penasaran banget, saat ternyata seorang ustadz yang udah sepuh ditangkap dan ditampilkan ditivi, terus dijuluki sang teroris.

Yang lebih hebohnya, sikap pak ustadz yang tetep tenang, cool dan santai banget. Ini justru kebalikan 180 derajat sama pengawal yang menangkap beliau. Mereka pakai baju dan senjata super lengkap. Kalau gue bilang sih lebay!!. secara gitu, si ustadz sudah sepuh, apa iya bakal ngelawan dengan segitunya. Biar kelihatan sangar kali ye.. heee....

Sikap pak ustadz ini yang akhirnya mancing

Jumat, 01 Maret 2013

BOROBUDUR ADALAH PENINGGALAN NABI SULAIMAN

( abis nonton videonya, kira2 isinya seperti tulisan dibawah ini.... )

Jika selama ini banyak ilmuwan-ilmuwan mengatakan bahwa negeri saba’ yang diceritakan dalam alquran itu berada di daerah yang sekarang adalah Yaman, maka menurut KH Fahmi Basya, negeri saba’ itu sebenarnya berada di Indonesia. Benarkah?

borobudur-quran-cokie

Dalam flying book itu KH Fahmi Basya mengungkapkan dengan bukti-bukti ilmiah bahwa candi borobudur bukanlah hasil kebudayaan hindu, sebagaimana kita ketahui selama ini. Candi borobudur sudah ada sejak lama, jauh sebelum hindu ada di nusantara ini. Berdasarkan penelitiannya, candi borobudur itu bahkan di bangun oleh nabi sulaiman dengan bantuan para jin pada jaman ketika nusantara belum berbentuk seperti sekarang, yaitu masih berupa daratan yang luas. Banyak data dan analisis yang dipaparkan dalam flying book itu sebagai bukti terhadap argumen ini.

Untuk mengetahui salah satu bukti argumen itu, sebelumnya ada baiknya kita mengetahui simbol lafadz bismillah. Simbol itu bisa dibuat dengan melukis sebuah 7 buah lingkaran sama besar yang salah satu lingkaran berada di tengah dan dikelilingi oleh 6 lingkaran lainnya.
Masing-masing lingkaran mewakili satu huruf pada

Minggu, 21 Oktober 2012

Hubungan Syariat dengan Politik Tata Negara

Islam menganut prinsip kesatuan antara perkara agama dengan perkara dunia. Artinya, keduanya harus berjalan seiring karena keduanya berasal dari Pencipta yang sama. Agama Islam dirumuskan oleh Allah, urusan dunia juga tak lepas dari taqdir Allah. Bila agama menggunakan peraturan Allah, dan urusan dunia menggunakan pikiran manusia, niscaya keduanya tidak bertemu. Ada dualisme kepentingan. Masalahnya, kepentingan manusia identik dengan analisis yang dangkal, terpengaruh dengan situasi yang berkembang, emosi bahkan hawa nafsu. Sementara kepentingan Allah dibingkai dengan sifat-sifat Maha Sempurna; adil, bijaksana, lengkap, tidak memberatkan manusia, berlaku lintas masa, lintas generasi, lintas suku dan ras, dan sempurna mencakup seluruh persoalan hidup manusia.


Sekularisme tidak diakui dalam Islam. Sekularisme sama dengan membodohkan Allah dalam hal mengatur dunia – na’udzu billah min dzalik – dan menganggap Islam tidak lengkap karena hanya bisa mengatur urusan akhirat. Aqidah sekularisme sama kafirnya dengan aqidah komunisme, demokrasi, hindu, budha, kristen, yahudi dan aqidah kafir lain.


Rasulullah saw – sebagai sosok ideal dalam menerjemahkan teori Islam di alam nyata – menjadi orang pertama yang mencontohkan konsep kesatuan antara agama dan dunia. Rasulullah saw menjadi kepala negara sekaligus seorang nabi. Perpaduan dua puncak jabatan pada jalur masing-masing. Karir tertinggi jalur dunia adalah menjadi kepala negara atau presiden. Sementara maqom tertinggi jalur syariat adalah jabatan sebagai nabi atau rasul. Semua jabatan syariat seperti ulama, mufti, mujahid, qodhi, kyai dan sebagainya berada di bawah jabatan nabi.


Fakta ini memberi isyarat bahwa Islam bisa berpadu dengan dunia. Atau dengan paradigma iman; Islam harus ditampilkan menyatu dengan pengaturan dunia. Jika realitas belum menampakkan fakta seperti itu, wajib diperjuangkan agar menyatu, seperti yang ditampilkan oleh Rasulullah saw semasa hidupnya.


Maka jawaban singkat untuk pertanyaan, bagaimana Islam mengatur hubungan antara syariat dengan politik negara, adalah keduanya harus melebur dalam satu manajemen dan kepemimpinan. Mahkamah untuk mengadili perkara syariat juga mahkamah untuk mengadili perkara dunia. Rujukan hukum perkara syariat adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan rujukan yang sama harus dipakai untuk urusan dunia. Peraturan aurat ketika melaksanakan syariat, juga peraturan aurat ketika bekerja di bank, perkantoran dan ketika olah raga. Tidak boleh ada ada istilah pengadilan agama, dan pengadilan negeri. Tidak boleh ada aturan busana ketika shalat (mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah), tapi ada aturan lain ketika bermain volley atau senam (mengacu kepada kesepakatan tidak resmi secara internasional). Apakah ada ketentuan baku bahwa wanita bermain volley hanya boleh memakai celana dalam dan kaos ketat?


Keharusan untuk menyelenggarakan politik negara dengan syariat merupakan fakta sejarah pada zaman nabi dan para khalifah sesudahnya yang tak bisa dibantah. Yang perlu kita kaji lebih lanjut adalah bagaimana jika politik negara tidak diatur dengan syariat, seperti kasus kita saat ini? Apa hukumnya? Bagaimana kita – sebagai rakyat – menempatkan diri? Kewajiban kita apa? Solusinya bagaimana? Dan seterusnya.


Dalil yang mengharuskan penyatuan syariat dengan politik negara diantaranya:

TUJUAN NEGARA ISLAM

Diskursus negara Islam tak boleh dijadikan barang tabu bagi seorang muslim. Adalah aneh jika ia dengan bangga menjual istilah ekonomi Islam, hukum Islam, pendidikan Islam, sekolah Islam, rumah sakit Islam, masyarakat Islam, tapi saat sampai pada istilah negara, ia malu – atau lebih tepat takut dan minder – untuk menyematkan label Islam. Ia lalu gagap untuk menyebut negara Islam.


Padahal sirah nabawiyah memberi bukti tak terbantahkan, bahwa Nabi saw mendirikan negara Islam. Saat itu Demokrasi belum lahir, komunis belum muncul, jahiliyah telah mati. Tak ada pilihan istilah lain untuk menyebut negara yang dibangun Nabi kecuali negara Islam.


Hal ini untuk membantah pandangan mayoritas umat Islam yang tak berani menerjemahkan istilah darul Islam dengan negara Islam. Biasanya diperhalus dengan ungkapan: negeri yang tegak nilai-nilai Islam di dalamnya.


Jika keengganan menyebut istilah negara Islam karena tak tahu, tugas kita memberi tahu melalui dakwah. Jika karena malu, harus dibimbing untuk bangga dengan Islam. Jika karena takut, harus dimotivasi bahwa setiap muslim pasti menghadapi ketakutan-ketakutan, tapi ketakutan itu tak boleh membuat kita mati kutu. Harus selalu bergerak untuk menghilangkan rasa takut ini.


Negara Islam bukan tujuan, tapi sarana.


Negara Islam

Kamis, 06 September 2012

Makanan haram dan penyakit asam urat




asam-urat(Arrahmah.com) -  "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. al-Baqarah : 173)


Pada ayat di atas, Allah menyebutkan empat jenis makanan yang diharamkan bagi kaum muslimin untuk mengkomsumsinya. Dan setiap apa yang diharamkan oleh Allah pasti di dalamnya terdapat madharat bagi kehidupan manusia ini. Hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah kepada manusia. Dan ini tampak terlihat jelas, ketika ditemukannya penyakit- penyakit berbahaya yang terkandung dalam makanan-makanan haram, khususnya tiga jenis pertama makanan yang disebutkan di atas. Marilah kita lihat satu persatu- satu kandungan dari ketiga jenis makanan yang diharamkan oleh Allah tersebut.

Pertama : Bangkai


Bangkai adalah binatang yang mati dengan tidak melalui penyembelihan syar'I, seperti binatang yang mati karena tercekik, jatuh dari tempat yang tinggi, terkena benturan keras dan lain-lainnya, yang kesemuanya menyebabkan darah membeku di dalam tubuh dan menggumpal dalam urat-uratnya, sehingga dagingnya tercemar oleh asam urat yang beracun. Di samping itu, bangkai juga mengandung racun yang dikeluarkan dari tubuhnya, sehingga tubuhnya membusuk. Berbeda dengan binatang yang disembelih secara syar'I, maka setelah disebut nama Allah, hewan tadi dipotong urat nadi lehernya, sehingga seluruh darahnya ke luar, jadi hewan tersebut mati karena kehabisan darah, sehingga dagingnya segar dan tidak terkena zat-zat yang beracun.


Selain itu, Islam menganjurkan

Negara Islam ( Khilafah ) Tidak Bertentangan dengan Pancasila

KIYAI PANCASILA


Oleh : Revolusi al Fatih


Pernah suatu ketika, saya mampir di sebuah masjid pinggir jalan, waktu itu ba'da isya sekitar jam 19.45 wib. Disitu kebetulan sedang ada pengajian, kalau tidak salah ustadznya kiyai **sensor** abis, lulusan **sensor** & lulusan UIN.


Saya sendiri gak begitu kenal. Tema pengajiannya sih biasa aja, tentang akhlak gitu. Maka setelah kiyai ngasih ceramah seki
tar 30 menit, terjadilah tanya jawab sbb:


>>Jamaah: "Asslm wr wb. Kiyai mau tanya nih, Pancasila itu bertentangan dengan Islam gak?"


>>Kiyai: "Wsslm wr wb. Pancasila gak bertentangan dengan Islam, Karena sila ke satunya Ketuhanan yg Maha Esa, masih mirip tauhid-lah, jadi gak yah"


>>Jamaah: "Terus Kalau Khilafah (Sistem Pemerintahan sesuai tuntunan Rasul saw) bertentangan dengan Pancasila gak?"


>>Kiyai: "Apalagi itu, gak lah.. (sang Kiyai terdiam sejenak)... Jadi Gini, Pancasila itu kan untuk persatuan dan kesatuan negeri ini, makanya sila ke 3 persatuan Indonesia, sedangkan Khilafah kata para ulama itu mempersatukan Umat Islam, jadi nyambung, gak bertentangan..."


>>Jamaah: "Trus Kiyai, berarti kita harus Pancasilais dong, kan katanya Pancasila Gak Bertentangan dengan Islam?"

Minggu, 26 Agustus 2012

PELUANG BISNIS DI BULAN PERTAMA TEGAKNYA DAULAH KHILAFAH

Daulah Khilafah itu unpredictable.. tegaknya bisa aja tahun depan, bulan depan, atau bahkan besok.

Tegaknya sudah pasti. Cuma tanggalnya memang belum dikasih tahu.

Sekedar informasi, tegaknya khilafah tak hanya bikin keuntungan berupa kedamaian, keamanan, ketenteraman. Tapi juga kesejahteraan. Di samping kesejahteraan dalam bentuk makro, tegaknya khilafah juga akan membuka berbagai peluang bisnis ekonomi mikro bagi para pengusaha yang jeli. Berikut, adalah beberapa peluang bisnis yang bisa dijalankan di bulan awal tegaknya khilafah:

Tantangan-Tantangan Potensial Pasca Berdirinya Khilafah

Oleh : Ir. H. Muhammad Ismail Yusanto, M.M.


khilafah1. Khilafah Sudah Dekat


Walaupun umat Islam seluruh dunia kini masih tertindas dipenjara sistem sekuler yang kufur, indikasi-indikasi kembalinya Khilafah semakin jelas. Kembalinya Khilafah kini bukan lagi sebatas harapan yang diliputi keraguan seperti halnya tahun 50-an atau 60-an abad lalu, namun telah menjadi keniscayaan yang tidak dapat dihindari lagi. Keniscayaan itu bagaikan kepastian datangnya sinar fajar yang terbit setelah malam yang hitam. Bukankah fajar pasti akan tiba, setelah malam yang gelap gulita?

Indiasi-indikasi dekatnya Khilafah itu antara lain ditunjukkan oleh fakta-fakta berikut : Pertama, umat semakin sadar akan keislamannya. Jika dulu umat tertipu dengan ide-ide Barat seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan demokrasi, kini mereka telah sadar. Pada tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, telah memfatwakan haramnya ide sekularisme, pluralisme, liberalisme. Jadi ide-ide itu telah dipahami sebagai ide-ide kafir yang bertentangan dengan Islam seratus persen.


Kedua, umat telah menginginkan Khilafah. Jika dulu saat hancurnya Khilafah tahun 1924 umat kurang menunjukkan sikap yang seharusnya, yakni berani mati untuk mengembalikan Khilafah, kini sikap mereka lain. Mereka kini merindukan Khilafah, menjadikan Khilafah sebagai masalah utama (al-qadhiyah al-mashiriyah), dan karenanya bersedia mati di jalannya. Di berbagai negeri Islam misalnya Palestina, Iraq, Afghanistan, dan di Uzbekistan, terbukti tak sedikit generasi umat ini yang rela mengorbankan nyawa demi Khilafah.


Ketiga, umat telah menginginkan persatuan. Jika di pertengahan abad 20-an umat banyak terkecoh dengan nasionalisme dan patriotisme sebagai slogan kemerdekaan dari penjajahan, kini mereka telah sadar. Nasionalisme telah disadari menjadi pemecah belah persatuan umat Islam seluruh dunia melalui lebih dari 50-an nation-state.


Keempat, umat telah mengetahui musuh-musuhnya. Jika sebelumnya umat menganggap negara-negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) sebagai dewa penolong atau negara sahabat, kini umat insyaf. Kebiadaban AS terhadap umat Islam di Afghanistan, Irak, dan Palestina, juga di Guantanamo dan Abu Ghraib, lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa AS dan negara-negara kapitalis lainnya adalah negara penjajah dan musuh umat yang nyata.


Kelima, Amerika Serikat kini jatuh dalam kesulitan. Sebelumnya umat memandang AS sebagai negara super power yang hebat dan tak terkalahkan. Tapi kini umat sudah sadar. Berbagai kekalahan atau kesulitan AS di Afghanistan, Irak, termasuk kekalahan memalukan Israel yang didukung penuh oleh AS di Lebanon pada musim panas 2006, membuktikan AS tidaklah sekuat yang dimitoskan.


Keenam, wibawa penguasa telah jatuh di mata umat. Jika sebelumnya umat percaya penguasa mereka adalah pelindung mereka, kini umat telah membuang kepercayaan itu. Para penguasa itu kini telah disadari sebagai para pengkhianat dan agen-agen penjajah yang kafir, khususnya AS. Umat Islam Indonesia misalnya, semakin paham posisi Presiden SBY, setelah yang bersangkutan menerima George W. Bush yang kafir dengan penuh hormat, padahal umat Islam Indonesia menolak Bush mentah-mentah.


Berdasarkan tanda-tanda itu, kembalinya Khilafah bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan sudah dekat. Maka fokus perjuangan mengembalikan Khilafah sesungguhnya bukan lagi memperkenalkan apa itu Khilafah, atau menjelaskan wajibnya Khilafah kepada umat –meski semua aktivitas ini tetap wajib dilakukan-- sebab semua pemikiran dasar ini telah tertanam dalam hati dan pikiran umat. Fokus kita sekarang adalah terus berusaha melakukan thalabun nushrah (seeking the power) untuk memperoleh kekuasaan dan memikirkan dengan serius tantangan-tantangan yang akan terjadi pasca berdirinya Khilafah nanti.


2. Optimisme Menghadapi Tantangan

Jumat, 24 Agustus 2012

Bendera dan Panji Umat Islam

 

Bender&saudarakudiPalestin

bendera besar

Risalah ini adalah tulisan yang diketik ulang dari sebuah buku yang sangat bernilai tinggi, buku yang telah menjelaskan dengan mengagumkan bagaimana seharusnya seorang Muslim menjunjung tinggi bendera dan panjinya, dan menyungkurkan bendera dan panji lainnya.

Kitab yang dalam bahasa arabnya berjudul “al-‘Alamu Nabawiy asy-Syariif wa Tathbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma’ashiratu” ini telah diterjemahkan oleh al-Ustadz Syamsuddin Ramadhan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “BENDERA NABI SAW” dan diterbitkan oleh Pustaka Thariqul Izzah tahun 2003.

Kitab ini hasil buah karya yang mendalam dari Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Sa’ad al-Hujailiy, beliau adalah Dosen bersama pada kuliah Syari’ah; Jurusan Peradilan dan Politik Pemerintahan di Universitas Islamiyyah Madinah Munawarah.

Buku ini terdiri dari delapan bab ditambah halaman Persembahan dan Mukadimah. Ada yang membuat saya sedikit tergetar ketika membaca halaman persembahan buku ini. Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Sa’ad al-Hujailiy secara spesial mempersembahkan buku yang amat mulia ini kepada ‘para pembawa panji dan bendera di negeri-negeri Islam yang telah menunaikan tugasnya menjaga panji dan bendera secara sempurna tanpa pernah berkurang’, pertanyaannya, siapakah mereka? Apakah anda pernah membawa panji dan bendera yang dimaksud Syaikh al-Hujailiy? Kalau benar, berarti panji dan bendera seperti apa yang anda jaga?

Tulisan ini secara keseluruhan akan menjelaskan seperti apakah seharusnya bendera dan panji Umat Islam yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga akan tergambar dengan jelas di benak kaum muslimin, siapakah yang telah mengangkat bendera yang benar, dan siapakah yang telah lalai dengan mengangkat bendera yang tidak pernah dicontohkan Rasul saw dalam sunnah-nya. Semoga kita semua dibukakan hatinya untuk bisa menetapi sunnah dalam hal bendera ini, dan disadarkan dari kelalaian kita yang selama ini menjunjung tinggi bendera yang hina, bendera yang telah menyekat-nyekat kaum muslimin ke dalam lebih dari 50 firqoh, bendera yang telah memutuskan rasa peduli kita terhadap saudara-saudara kita nun jauh disana yang tengah tersakiti oleh para penjajah kafir maupun penguasa yang dzolim.

Berikut ini salinan ulang dari buku “BENDERA NABI SAW” mulai dari haalman 36 sampai 40, selamat menikmati:

Banyak Hadits dan atsar telah menjelaskan kepada kita tentang warna bendera (liwaa’) Nabi saw, bentuk, dan karakteristiknya. Di dalamnya juga dijelaskan warna, bentuk, dan karakteristik panji-panji Rasulullah saw.

Berikut ini akan dipaparkan hadits-hadits yang menuturkan tentnag warna bendera dan panji. Hadits-hadits ini telah dikelurakan oleh ‘ulama-ulama ahli hadits dalam kitab-kitab mereka.

Pertama : Warna putih untuk bendera (liwaa’)

1. Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata:

<<kaanat rooyatu rosuuuliLlahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saudaa a, wa liwaa u huu abyadho>>
Raayahnya (panji) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa’nya) berwarna putih.
Takhrij Hadits, Rayah menurut penuturan Ibnu Abbas ini, dikeluarkan dari :

  • Imam Tirmidzi dalam kitab Jami’nya: IV/197, no. 1681, dikomentarinya sebagai hadits hasan gharib;

  • Imam Ibnu Majah dalam Sunannya: II/941, no. 2818;

  • Imam Thabrani dalam Mu’jamul Ausath: I/77, no. 219;

  • Mu’jam al-Kabir: XII/207, no. 12909;

  • Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak: II/115, no. 2506/131, Dikatakan dalam at-Talkhish (Yazid dha’if);

  • Imam al-Baihaqi dalam Sunannya: VI/363 (lihat Fath al-Baariy: VI/126);

  • Imam Abu Syaikh dalam kitabnya Akhlaq an-Nabi saw, halaman 153, No. 420/421;

  • Imam Baghawi dalam Syarh Sunnah: X/404, no. 2664;

  • Imam al-Haitsami dalam Majmu’ az-Zawaaid: V/321, dikatakan, Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thabrani, didalamnya terdapat Hibban bin Andullah, Adz-Dzahabi berkomentar, dia adalah majhul sedang para perawi Abu Ya’la lainnya adalah tsiqah;

  • Berkata as-Shalihi asy-Syaami dalam sirah Nabi saw (Subulul Huda wa ar-Rasyad) ‘Riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi sanadnya bagus, sedangkan melalui Thabrani perawinya shahih kecuali Hibban bin Ubaidillah dari Baridah dan Ibnu Abbas’: VII/271;

  • Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh kota Damaskus: IV/223 dengan teks berasal dari Ibnu Abbas yang dikatakannya: ‘Rayahnya RasuluLLah saw adalah berwarna hitam, sedangkan liwa’-nya berwarna putih’. Disebutkan pula melalui jalur lain (IV/24), lihat juga Mukhtasharnya: I/352. Berkata Syaikh Syu’aibal Arnauth dalam Hamsysyarh Sunan al-Baghawiy bahwa sanadnya hasan. Tirmidzi juga meng-hasan-kannya;

  • Tharh at-Tatsrib Syarh at-Tarqib: VII/220;

  • Umdatul Qaari-nya al-‘Aini: XII/47;

  • Misykah al-Mashabih-nya Tibriziy: II/1140.


2. Dari Abu Hurairah, ia berkata:

<<Kaanat rooyatu rasuuliLlahi shallahu ‘alaihi wa sallam saudaa a, wa liwaa u huu abyadho>>
Panji RasuluLlah saw (raayat) berwarna hitam, sedangkan liwa’nya berwarna putih.

Takhrij Hadits, Rayah menurut penuturan Abu Hurairah ra ini, dikeluarkan dari :

  • Dikeluarkan oleh Abu Syaikh dalam Akhlaq an-Nabi pada halaman 154, no. 421 dan halaman 256, no. 427;

  • Dikeluarkan juga oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh kota Damaskus dengan teks (Telah menceritakan kepada kami Abu al-Qasim al-Khadlr bin Hussain bin Abdillah bin ‘Abdan, dari Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Mubarak al-Farra, dari Abu Muhammad Abdullah bin Hussain bin Abdan, dari Abdul Wahhab al-Kilabi, dari Sa’id bin Abdul Aziz al-Halabiy, dari Abu Nu’aim Abid bin Hisyam, dari Khalid bin Umar, dari al-Laits bin Sa’ad, dari Yazid bin Abi Hubaib, dari Abi al-Khair, dari Abu Hurairah, berkata : ‘Rayahnya Nabi saw dari secarik beludru yang ada di tanagn Aisyah, ditanyakan kepadanya (bahwa Aisyah) yang memotongnya, dan liwa beliau berwarna putih..’ (al-hadits).

  • Juga melalui jalur lain dikatakan: “Telah menceritakan kepada kami Abu al-Qasim as-Samarqandiy, dari Kahlid bin Amru, dari Laits, dari Yazid bin Abi Hubaib, dari Abi al-Khair Murtsid bin Yazid, dari Abu Hurairah, bunyi haditsnya sama dengan sebelumnya.

  • Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Baariy: ‘Telah dikeluarkan oleh Ibnu Adi dari haditsnya Abu Hurairah’: VI/127;

  • Juga berita tersebut dalam al-Kamil-nya Ibnu Adi: III/31, yang diterjemahkan oleh Khalid al-Qurasyiy;

  • Tharh at-Tatsrib Syarh at-Tarqib: VII/220;

  • Umdatul Qaari-nya al-‘Aini: XII/47;


3. Dari ‘Abdullah bin Buraidah dari Bapaknya: Abu Qasim bin ‘Asakir berkata: “telah meriwayatkan kepada kami Abu al-Qasim Zahir bin Thahir asy-Syahaamiy, dan Abu al-Mudzfar bin al-Qasyiiriy, keduanya berkata, “Telah mengabarkan kepada kami, Abu Sa’ad al-Junzuruudiy, telah mengabarkan kepada kami, Abu ‘Amru bin Hamdaan, telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la al-Mushiliy, telah mengabarkan kepada kamiIbrahim bin al-Hujjaj, telah mengabarkan kepada kami Hibban bin ‘Ubaidillah –tambahan dari al-Qasyiiriy- Ibnu Hibban Abu zahiir, telah mengabarkan kepada kami Abu Majliz dari Ibnu ‘Abbas, Hayyan berkata, ‘Telah meriwayatakan kepada kami ‘Abdillah bin Buraidah dari bapaknya:

<<anna rosuulaLlahi shallallahu ‘alaihi wa sallam kaanat rooyatuhuu saudaa a, wa liwaau huu abyadho>>
Sesungguhnya, panji RasuluLlah saw (rayah) berwarna hitam, sedangkan liwa’nya berwarna putih.

Takhrij Hadits, Rayah menurut penuturan ‘Abdillah bin Buraidah dari bapaknya ini, dikeluarkan dari :

  • Imam Abu Syaikh dalam Akhlaq an-Nabi saw dan Adabnya, halaman 153, no. 420. Aku berkata: ‘Itu jalurnya sama dengan hadits yang sebelumnya, dari Ibnu Abbas, karena kadangkala Ibnu Abbas mengatakannya pada dirinya, kadangkala kepada Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, teksnya adalah: ‘Bahwa rayahnya RasuluLah saw berwarna hitam dan liwanya berwarna putih’.

  • Tarikh ad-Dimasysq: IV/224.

  • Imam Ibnu Hajar berkata dalam Fath a- Bariy: VI/127, Abi Ya’la dari haditsnya Buraidah;

  • Thabrani mengeluarkannya dalam Mu’jamul Kabir: XII/207, no. 12909;

  • Majmu’ al-Bahrain, Halaman 870;

  • Imam al-Iraqiy berkata dalam Tharh at-Tatsrib Syarh at-Tarqib: VII/220, ‘Itu diriwayatkan oleh Abu Ya’al al-Mausuliy dalam musnadnya, dan Thabrani dalam Mu’jam al-Kabirnya dari hadits Buraidah’.


4. Dari Jabir ra (haditsnya marfu’) sampai kepada RasuluLlah saw:

<<annahuu kaana liwa uhuu yauma dakhola makkata abyadho>>
Bendera Nabi saw (liwaa’) pada saat masuk kota Makkah berwarna putih

Takhrij Hadits, Rayah menurut penuturan Jabir ra ini, dikeluarkan dari :

  • Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya: III/72, no. 2592;

  • Al-Mukhtashar: VII/406, no. 2480.

  • Teks menurut Tirmidzi: IV/195, no. 1679, berkata: ‘Dari Jabir bin Abdullah, ‘Bahwasanya Nabi saw masuk ke kota Makkah pada saat hari penaklukan dengan liwanya berwarna putih’.

  • Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya (al-Ihsan): XI/47, no. 4743, berkata al-Arnauth: ‘Haditsnya hasan dengan dua orang saksi’.

  • Imam an-Nasa’i: VI/200, no. 6869 dalam bab Haji, dan no. 106 dalam bab Masuk kota Makkah;

  • Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra-nya: VI/362;

  • Imam al-Baghawiy dalam Syarh as-Sunnah: X/403;

  • Al-Hakim dalam al-Mustadraknya: IV/115, no. 2505, dikatakannya: ‘Hadits ini shahih dengan syarat muslim meski beliau tidak mengeluarkannya, tetapi dia menyaksikan haditsnya Ibnu Abbas ra’.;

  • Imam al-Haitsami dalam Majmu’ az-Zawaaid : V/321, dikatakannya: ‘Diriwayatkan oleh Thabrani dengan tiga orang, terdapat juga dalam Sunan-nya bahwa liwa itu putih’.;

  • Lihat jugaat-Talkhish al-Hubair-nya Ibnu Hajar: I/98;

  • Umdatul Qaari-nya al-‘Aini: XII/47;

  • Misykah al-Mashabih-nya Tibriziy: II/1140.


5. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata:

<<Kaana liwaa u rosuuliLlahi shallallahu ‘alaihi wa sallam abyadho>>
Liwaa’nya Nabi saw berwarna putih

Takhrij Hadits, Rayah menurut penuturan ‘Aisyah ra ini, dikeluarkan dari :

  • Imam al-Baghawiy dalam Syarh as-Sunnah: X/404, no. 2665;

  • Abu Syaikh dalam Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu pada halaman 154, no. 422, Halaman 156, no. 428;

  • Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannif-nya: VI/533, no. 336111;

  • Imam al-Iraqiy berkata dalam Tharh at-Tatsrib Syarh at-Tarqib: VII/220: ‘Itu diriwayatkan oleh Abu Syaikh bin Hibban dari Haditsnya Aisyah.’


6. Dari Ibnu ‘Umar ra, beliau berkata:

<<anna rosuulaLlahi shallallahu ‘alaihi wa sallam kaana idzaa ‘aqoda liwaa an, ‘aqodahu abyadhu, wa kaana liwaa u rosuuliLlahi shallallahu ‘alaihi wa sallam abyadho>>
Tatkala Rasulullah saw memasangkan benderanya, beliau memasangkan bendera (liwaa’) yang berwarna putih

Hadits dari Ibnu ‘Umar ra ini dikeluarkan Abu Syaikh dalam kitab Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu, halaman 155, no. 423.

7. Rasyid bin Sa’ad telah menceritakan sebuah riwayat dari RasuluLlah saw:

<<kaanat royaatu rasuuliLlahi shallallahu ‘alaihi wa sallam saudaa a wa liwaa uhuu abyadho>>
Panji (raayah) Nabi saw berwarna hitam, sedangkan liwa’-nya berwarna putih

Rayah menurut penuturan Rasyid bin Sa’ad ini ada dalam kitab as-Sair al-Kabir karya Imam asy-Syaibani: I/71.

Kedua : Warna Hitam untuk Panji (Raayah)

(Nantikan di “Bendera dan Panji Umat Islam (2)“, walau sebenarnya sudah terlalu jelas, tapi ndak apa-apa, biar tambah mantap, Insya Allah, do’akan saya)

(Hanif al-Falimabnai, Yogyakarta, 13 Mei 2007; 09.30pm WIB)

 

bnedera_crop

MuslimInggris

Bender&saudarakudiPalestin

 
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com